Dia "Danau"
Beberapa hari ini sedang menata ulang rumah Kai, terutama di atas, dimana kamar-kamar kami berada. Setelah pernikahan adik ipar, kamarnya dibongkar. Difungsikan sebagai ruang lapang saja tempat anak2 belajar, bermain bareng kucing-kucing yang makin bertambah dan bertingkah. Bukannya apa-apa. Kamarnya lembab, dindingnya lapuk, sehingga pilih dibuka saja agar lebih lapang juga. Antisipasi saat saudara berkunjung sehingga punya ruang lega tempat kami ngobrol dan berkumpul.
Di ruang itu juga buku-buku yang kami kumpulkan sejak sebelum menikah, dibuatkan rak oleh suami. Duduk disitu membuat saya flashback pada ingatan satu persatu buku itu kami peroleh. Sebagian hasil tabungan jaman bujang dulu, sebagian hadiah dari teman dan lomba-lomba yang kami ikuti. Sebagian lagi kami beli setelah menikah, mengumpulkan recehan dan menunggu flashsale hingga berburu di pameran-pameran diskon yang lumayan bikin kami bisa beli buku dengan harga minimal.
Melihat tumpukan buku itu entah kenapa jadi mellow sekali. Tetiba teringat impian saya, kami dulu yang rasa-rasanya mustahil, tapi hari ini terwujud di depan mata. Mungkin masih 75% dari impian, tetapi mengingat apa yang kami lalui sebelum ini, persentase itu tentu sudah sangat melampaui ekspektasi.
Berkumpul disana saat hari hujan, membaca buku tentang Soekarno sambil mengawasi tingkah kucing yang random. Lalu KidKin sibuk mengetik entah apa di layar komputernya sambil cekikikan. Bapak dengan kopi dan cemilannya, sibuk berpikir akan membuat kreasi apa lagi untuk mengisi ruangan.
Fabiyayyiala irobbikumaa tukadziban...
Dulu mbah sering bilang saat saya marah akan sesuatu.
"Sing sabar, kabeh iku ono wayahe"
Yang sabar, semua ada waktunya.
Dulu mbesengut saja saat mendengar itu. Hari ini, mungkin pengaruh umur yang menua juga, saya mulai merasa paham maksudnya. Apa-apa saja kejadian yang kami alami di 2024 terutama, selalu mengingatkan saya pada petuah mbah yang saya panggil emak itu. Serasa beliau bisa meramal dan melihat masa depan yang akan saya lalui. Al fatihah buatmu, Mak. Semoga Allah tempatkanmu di sebaik-baiknya tempat di sisiNya.
Emak itu contoh konkrit dari wanita mandiri yang tegas sekaligus sabar. Bekerja keras seumur hidupnya untuk orangtua, adik-adik, hingga punya mantu dan cucu, emak masih sanggup bekerja. Kadang-kadang, di kamar kecil tempat kami tidur berimpitan berempat, Emak bercerita tentang hari itu. Kadang cerita betapa marahnya dia akan sesuatu, tetapi lalu bilang sendiri ga boleh marah dan ngalah saja, terima saja. Kadang bercerita tentang buruknya seseorang, lalu mewanti-wanti kami agar tidak seperti itu.
"Lek sabar, Gusti Allah sing ngerewangi. Sembarang iso, pokok obah karo sabar"
Kalau mau sabar, Gusti Allah akan membantu. Semua hal itu mungkin terjadi, asal berusaha diiringi sabar.
Emak itu jarang memukul. Mungkin ngomel, tetapi lebih banyak diam saat menghadapi kami cucunya. Kesabarannya itu, serasa mustahil kami tiru. Ngalahnya itu, menjadikan emak serasa orang sufi yang tak terganggu duniawi. Mau diambil apa saja darinya, seingat saya tak pernah beliau mencak-mencak menuding orang, apalagi mencaci. Beliau hanya bicara, seperlunya. Menegaskan apa yang ingin beliau katakan. Urusan didengar, dituruti, dipatuhi atau bahkan diabaikan, rasanya tak mengganggu beliau sama sekali.
"Lek manut, oleh apike, iku rejekimu. Lek ga manut, iku pilihanmu, yoiku olehmu. Ga oleh ngresulo. "
Waah, bikin mbrebes mili kalo ingat-ingat segala tentang beliau. Apa yang ditinggalkan buat kami, anak cucu penerusnya itu rasanya komplit sekali. Bukan harta, tapi pengalamannya, kemampuannya menahan diri, nrimannya beliau pada hidup yang kalau saya pikirkan sekarang ga mungkin sanggup seandainya saya yang mengalami. Sabarnya benar-benar beyond believe. Hingga hari ini saya selalu merasa, apa-apa yang saya peroleh hari ini, sedikitnya adalah buah kesabaran Emak, terhadap apa saja yang terjadi dalam hidupnya dulu. Manut pada yang lebih tua, dan rukun dengan saudara. Setidaknya itu yang sekarang berusaha kami sampaikan pada KidKin.
Akhir 2024, memulai usia kepala 4, rasanya baru bisa memahami segala yang emak maksud. Tanpa sabar, segala usaha yang kita bangun juga akan sia-sia. Tanpa usaha, sabar juga hanya akan jadi omong kosong. Dan itu saja harapanku di tahun berikutnya. Bersabar dan ridho atas apa saja yang sedang dan mungkin akan terjadi, semua sudah diatur Gusti Allah. Semoga diberikan hati yang cukup, yang nriman, tidak sebesar hati Emak tapi setidaknya cukup untuk menampung segala lucu-lucuannya perjalanan di 2025.
2025? Mari sini banyak bertemu orang dan saling terhubung. Tapi lek ngajak dolen rodok adoh numpak grabcar aku gawakno kresek. Aku areke simpel tapi mabukan ðĪ
*buka draft ini di akhir tahun 2025, dan baru sadar belum ke post di blog ini tahun lalu ð
Sekalian review doa ya, terkabul atau gak sepanjang 2025 ini. Dan terkabul, melebihi ekspektasi. It's amazing year, meskipun keseok, tapi buuuaanyaak senengnya, pelajaran, pengalaman, dan seperti yang kami mau, nambah teman, nambah POV ð
Tapi 2025 juga kehilangan teman, kakak terbaik. Allah lebih sayang beliau. Wes ga sakit lagi njenengan, Sam. Maturnuwun wes ngancani kami sepanjang kita kenal, wes baik pada KidKin, pada kucing2 liar ndek pasar Pakisaji. Semoga tidak ada yang kita sesali, karena sepanjang hidup dan kenal, kita saling berbuat baik. Rest in Peace ð
Begitupun kucing-kucing mungil itu. Kimchi, Milky, Cimeng, Momo, Cimol, Cireng semuanya meninggal, hampir barengan karena virus ðĨē
Sekarang tinggal Chiki, kucing tertua. Mochi, yang makin doyan jelajah kampung berburu binatang lucu ðĪŠ, juga Bubu si putih yang baper pada Chiki sampe stay di bawah saja ga mau campur temen lain.
Surprise nya, ada kucing putih yang tetiba datang depan pagar. Kami kira itu Milky karena mirip banget, ternyata bukan. Dari hari itu, sampai hari ini, resmilah dia jadi meowarmies kami dengan nama Udil ð
Sehat-sehat di 2026, can't wait KidKin bakal masuk SMP mana yak akhir semester nanti ðĪ






Comments
Post a Comment