Posts

Showing posts with the label buku

Merobek Sumatra

Image
Apa yang terlintas dalam pikiran kala tersebut nama-nama kota di pulau Sumatra? Mentawai, Aceh, Sawahlunto, Padang, Batam, Jambi, dsb... Bisa jadi kita akan tertuju pada kulinernya. Siapa yang tak kenal masakan padang? Pada warung kopi yang tersebar di seluruh penjuru aceh karena budaya ' ngopi dan nongkrong ' yang kental disana. Atau pada ombak yang membuai surfer-surfer dunia di lautan Mentawai. Bisa jadi juga kita terkenang Cut Nyak Dien, perang Padri, GAM, atau justru tsunami Aceh.  Lewat buku ini saya diajak mengenal Sumatra lebih akrab. Satu-persatu wilayah dijelajahi penulis, ditangkap memorinya melalui catatan perjalanan dan foto-foto yang membuat ndoweh   spechless . Gaya penulisannya mengingatkan saya pada Agustinus Wibowo , yang berhasil 'menghadirkan' gambaran tentang Asia Tengah dengan detilnya dalam 'trilogi' bukunya (Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol)  Tak hanya pada lanskapnya, tetapi juga karakter penduduknya. Dibuku ini, begitulah...

Maiyah Itu Apa?

Sebagai orang yang hanya ' arang kading ' hadir di majelisnya, sebatas kalau tempatnya kebetulan dekat, dan seringnya hanya modal wifi untuk bisa sinau 'online' bareng temen-temen yang lain, terlebih belakangan ini, tentu saya sangat tidak pantas dan tidak punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan diatas. Tetapi saya tergerak untuk menulis tentang maiyah, tentu dari sudut pandang saya sendiri. Karena sedikit banyak, #maiyah membantu saya selama kurang lebih 10 tahun, terutama 2 tahun belakangan. Membantu ' ndandani ' cara berpikir, kalau orang modern bilang ' mindset '. Diobrak-abrik, dirombak total. Dan dari perombakan itu hadir banyak sudut pandang baru, yang membuat saya bisa merasa 'woohh, hidup itu luas dan penuh sekali dengan kemungkinan-kemungkinan. Kadang-kadang lucu, seringkali lucu sekali yo tibae😁' Dari maiyah, yang dulunya saya hanya ingin sekedar kumpul, sekedar ngisi waktu karena jomblo, dan berharap siapa tahu ketemu jodohnya...

hikayat

Image
Mama terengah-engah mengisahkan cerita favoritnya, tentang sesal di ranjang ajal. Dalam hati aku jadi bertanya-tanya, apakah dia sedang berkisah tentang dirinya sendiri. Begini cerita Mama : “Nenek tua sakit keras, terbaring di ranjang. Cucunya sabar menjaga. Si Nenek gelisah. Kepalanya tak henti menoleh ke kiri ke kanan. Dia tak siap menyambut Sang Maut. Air mata menetes melintasi pipinya yang sudah kempot. Dia bercerita, itu hari bahagia, dia masih muda, diundang ke pesta meriah orang kaya di kampung, dia tak pernah lihat kemewahan seperti itu. Pilar-pilar emas. Ayam panggang. Babi guling. Anggur merah. Tetamu berjubah sutra bersulam benang berkilau.’ ‘Bukannya bagus? Mengapa Nenek sedih?’ tanya cucunya. ‘Kalau ingat, aku jadi marah. Ada satu bola daging begitu lezat tersisa di piring besar di atas meja panjang. Aku tak sempat memakannya.’ ‘Kenapa tidak sempat? Kalau ingin makan kan tinggal disumpit saja.’ ‘Di  sumpitku sudah ada bola daging lain.’ ‘Gampang. Yang ...