Posts

Showing posts with the label cerpen

Sebuah Tawaran Untuk Nay

Image
Pulau yang ingin kuceritakan padamu itu, adalah sebuah hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning. Lengkap dengan gerombolan manuk emprit yang hilir mudik mencuri padi yang mulai bernas. Juga dengan galengan yang biasa digunakan para bocah mencari belut selepas hujan.  Kerap kubayangkan. Aku dan kamu menikmati senja di sana, di antara matahari yang perlahan merubuhkan badan. Duduk berdampingan, lalu bercerita tentang masa depan, tentang aku dan kamu kemudian.  Atau menikmati sejuknya tepian sungai yang berair jernih, dengan batu-batu hitam serupa sungai kecil kenanganmu yang pernah kamu ceritakan, tempat kamu dan simbok mencuci pakaian. Sungai tempat kamu dan dia, Noy, memandikan kerbau di hilir. Sungai berhargamu yang kini sudah surut bahkan menciut dikepung rumah dan bangunan.  Semua kenangan masa kecilmu adalah hal yang hendak kutawarkan padamu. Saat nanti perjalanan waktu membawa langkah kakimu kemari, ke dusun kecil di bawah kaki merapi. Karena aku tahu. Di temp...

Sebuah Jawaban

Image
Bagaimana jika kutitipkan saja kamu pada langit  Yang gulungan awannya sanggup menaungimu dari teriknya mentari Bagaimana jika kutitipkan kamu pada kemegahan laut Yang memiliki air sedalam dan seluas pikiran yang tak mungkin bisa kita jangkau Bagaimana jika kutitipkan kamu pada pepohonan  Yang rindang daunnya, kokoh batangnya, meneduhkanmu dari penatnya angan dan harapan Bagaimana jika kutitipkan saja kamu pada angin  Yang semilir atau gemuruhnya membawa aroma baru bagi rasamu Karena harimu terlalu berat, kurasa... Menantiku yang berulangkali tegas berkata : "Jangan menungguku. Atau menarikku dengan iming iming harapan. Aku sedang berada pada indahnya penantian. Dan akan aku teruskan. Pulanglah kamu. Jangan siakan waktu." "Untuk apa, Nay?" Tanyamu pasrah "Adakah lagi hal yang lebih menarik dibanding penantian samudera akan aliran sungai? Aku muara aliran itu. Itu takdirku. Meski begitu keruh dan anyir. Sungai yang terluka karena selalu menampung sampah dari kot...

Baik-baik Saja

Image
Aku hanya perlu membiasakan diri kembali untuk jatuh cinta pada sepi, pada hujan, pada secangkir kopi, pada rangkaian aksara yang tersusun satu demi satu dalam bingkai jendela biru muda di layar laptop. Meski nyatanya tak ada yang bisa kutulis sejauh apapun mencoba. Satu satu terangkai kemudian kuhapus. Serupa perbuatan kosong yang menandakan otakku memang sedang tak karuan. Kucoba mengumpulkan fokus pada kopi yang tinggal separuh cangkir. Kopi tubruk tanpa gula. Pada akhirnya hanya diam mematung setelah itu. Berkelebatan memori datang dan pergi, serupa klise foto yang terpotong disana sini.  Sungguh aneh. Sebelumnya aku sangat nyaman menulis dalam kondisi tenang, bahkan aku butuh ruang untuk menyendiri. Hari ini kudapati semuanya. Tapi entah kemana fokusku hilang... " Aku baik-baik saja "  bisikku dalam hati. Aku hanya perlu kembali terbiasa, sendiri. Setelah hari ini, aku bisa merasa bebas. Pergi kemanapun, kapanpun aku mau. Melakukan apa saja yang aku mau tanpa perlu ribet...

Last messages

Image
Aku memang pelupa. Pada nama jalan atau papan penunjuk arah. Pada apa yang kukerjakan pagi tadi. Tapi tidak pada tiap kenangan beserta emosi yang kurasakan saat mengalami suatu hal. Hari ini, tepat setahun lalu aku seharian menunggumu di beranda rumah. Tak ada pesan di ponsel bahwa kamu tak bisa datang. Namun nyatanya kita batal bertemu, setelah seharian kuhabiskan hanya untuk terlihat pantas untukmu, menunggumu. Aku masih ingat helaan nafas yang kuambil malam pukul 9. Waktu dimana tak ada kemungkinan kamu akan datang. Masih juga kuingat hangat pipi dan mata yang sembab di malam-malam sesudahnya karena kecewa padamu. Meskipun aku pun ingat benar aku bilang akan mengikhlaskanmu. Pergi entah kepelukan perempuan yang mana lagi. Bagiku, itu hal yang paling mungkin kulakukan setelah penantian panjang berujung pada perjumpaan yang batal, karena belakangan aku tahu kamu berhubungan dengan banyak perempuan. Aku, nyatanya, tak cukup buatmu. Jadi pergilah... Hari ini kelebatan memori itu data...

Yang lalu

Image
Tentang waktu Dan ingatan yang makin menipis  Lalu terkikis habis Tentang apa yang mudah sekali terlupa Entah janji entah kata  Ingatan kita yang renta Tentang jatah pikiran yang menyempit  Dulu seluas langit  Kini hanya sebatas ujung parit Diingat, dikenang Dilupakan, dibuang. Sayang... ingatan kita memang tak sempurna  Tetapi hari ini ijinkan sekali saja aku untuk bicara Dengarkan dengan mengingat kenangan kita saat tertawa "Meskipun kelak jelas aku lupa. Pada janji pada kata. Tetapi aku pernah merasa bahagia. Hari ini, kemarin dan lusa, Kukenang dengan cinta dan peluk cium sederhana.  Semoga termaafkan. Ingatan yang habis dimakan renta. Kita yang menua tanpa perlu meminta. Tanpa perlu setuju pada waktu. Aku pernah dan akan bahagia selalu. Sekarang mari, memintal waktu. Dengan benang kesabaran serta saling mendoakan.  Kulepas semua kini dengan lega  Merayap, merangkak, berenang, berperahu, melaju, atau mengudaralah sejauh mungkin. Demi pertemuan...

Doa

Image
 Aku mengingat hari saat bertemu ibu di teras rumah, sebelum kepergianku yang begitu mendadak. Aku bertanya, kenapa ibu tak memelukku sembari berdoa dengan isak tangis dan sedu sedan? Aku akan pergi jauh,Bu. Ibu menjawab dengan gayanya yang santai 'Ibu berdoa untukmu tidak sebatas kala kita berpisah raga. Ibu memelukmu tiap saat dalam doa dan puja pada Gusti Allah. Ibu tak ingin mengiringi perpisahan dengan tangis. Itu hanya membuatmu merasa takut dengan perpisahan. Padahal baik pertemuan atau perpisahan, adalah cara Tuhan memberi kesempatan baru untuk lebih berkembang. Betapa kamu harus mengingat bahwa pertemuan atau perpisahan tak ada lagi bedanya, semata karena kita tak pernah tahu, mana yang terbaik untuk masa depankita. Terutama di hadapanNya.' #fiksiibuk #nulistipistipis

Petualang?

Image
"Jalanan bagiku lebih menarik dibanding rumah. Disana kita temui banyak kejutan. Kita tak pernah tahu apa yang menanti di ujung jalan. Dan justru itu menariknya." "Setidaknya rumah menawarkan kehangatan, rasa nyaman. Aku tak pernah benar-benar percaya petualang sepertimu tak ingat pulang. Pasti terpikir rumah kan?" "Dulu, iya. Sejak hari aku memutuskan dijalan, rumah bagiku hanya sebatas ruang nostalgia. Rasa yang ada hanya indah untuk dikenang" "Karena tak ada Mami?" "Mungkin. Karena sejak itu Daddy hanya hidup untuk masa lalu. Masa bersama Mami. Daddy lupa ada aku. Dan dijalanan, baru aku bisa membalas untuk tidak memikirkan Daddy juga." "Daddymu memang berubah banyak sejak hari itu. Segan melangkah maju. Laki-laki yang berkubang kenangan." "Tapi kamu setia bersamanya. Maksudku mengambil resiko untuk mau menemaninya setelah hari kepergian Mami. Jujur saja aku cukup lega meninggalkan Daddy bersamamu, Nay...

Entah

Image
Akhirnya kita tiba pada pertanyaan, Masih bisa dilanjutkan? Kamu bertanya tentang rasaku, atau tentang Waktu? Rasaku semakin bertumpuk hingga entah harus kuletakkan dimana lagi. Kadang berat menghimpit. Memenuhi setiap celah yang ada hingga tak lagi ada ruang tersisa. Lain halnya dengan Waktu. Belakangan kita diajak bercanda kelewat serius. Hingga terjengkang kita tertawa. Tanpa sadar keluar air mata. Terus saja menghimpit seakan memaksa kita untuk sadar dan kembali pada fakta. Bahwa masing-masing kita masih punya perjalanan yang belum usai. Belum sampai bahkan mungkin baru dimulai. Mungkin karena kita memulainya terlalu awal. Terlalu cepat sebelum kita mampu menyadari rasa apa yang sebenarnya kita jalani kemarin. Bisa apa kita selain menjalani? Selain merapuh pada Waktu. Bukan meratap. Tapi berkompromi. Karena kita makhluk Tuhan. Setidaknya kita tahu, Waktu masih sudi membentuk kita. Entah merupa apa.

Mimpi

Image
Setelah pamitmu yang terburu Aku tertidur dalam penat yang sangat Hingga datang sebuah kisah dalam lelap Entah mimpi entah nyata Disana aku bersamamu Berteman karib serupa awan dan hujan Lalu entah mengapa kamu juga ucapkan perpisahan Tuhan, bahkan dalam bunga tidur akupun harus menangisi langkahmu yang menjauh Fokus berganti pada cerita Aku ada dalam sebuah mobil yang berjalan pelan menuju sebuah rumah Aku melihatmu dari jendela Mengikutiku dengan motor tanpa mantel Sedang hari hujan begitu cengeng Aku memasuki sebuah rumah terlalu lelah untuk melakukan apa saja hingga hanya meringkuk dan terlelap yang aku bisa meringkuk persis kucing kecil yang kedinginan Lalu aku bermimpi Aku memelukmu tetap dalam posisi meringkuk serupa kamu memeluk beruang kecil yang kamu sebut Nay Tetiba kamu menghadapku Sebuah kecupan lembut tepat di bibirku darimu membuatku terbangun dari lelap yang sangat Dalam mata yang remang aku melihatmu tersenyum lucu Berkata kamu rindu dan tak ...

akhir november

Image
Kamu bertanya, Bagaimana bila kita dulu dipertemukan sebelum hari ini. Aku menjawab itu tak mungkin Tak mungkin tumbuh chemistry, bahkan andai kamu datang 1 hari lebih cepat dari pernikahanku dengannya Atau sebelum pernikahanmu dengannya Mengapa tidak kau tanya Bagaimana kita akan mengisi hari saat Waktu mengijinkan bertemu Aku akan menjawabnya dengan senyum merekah dan mata berbinar Mungkin kita bisa bertemu di taman Digaris tengah antara rumahku dan rumahmu Lalu bersepeda atau naik apa saja menuju toko buku Aku lama tak kesana bersama seseorang yang kukira sanggup mengertiku Lepas itu kamu boleh ambil waktuku Kemanapun inginmu selama bersamaku, Cinema, Taman, Konser Musik, Pasar Malam, Tempat Wisata, kemana saja sesuka kita Asal genggam tanganku Agar aku tak takut lagi pada keramaian yang kadang terlalu menyeramkan Di akhir hari Aku akan menutupnya dengan memegang tanganmu Mengucapkan terimakasih telah mengeluarkanku dari kotak kaca semu Memantaskan aku la...

Kun..

Image
Sssttt... aku ceritakan padamu, satu kesalahan dalam hidupmu Setidaknya dari sudut pandangku, yang minus tiga Mari kita ambil contoh bijak, Dari seorang ulama yang mengurung diri di dalam kamar Melakukan puja dan sembahyang Doa dan dzikir tanpa jemu sepanjang waktu Berharap Kasih menghampiri Merindu surga katanya Tetapi dia lupa Keluarganya pontang panting menjalani hidup Jangankan surga Sesuap nasi untuk esok saja sudah bikin tidur malam begitu menyenangkan Seperti mimpi besar bertemu Tuhan Sang ulama lupa Bahwa surga ada di tiap celoteh riang anak-anak Yang tak pernah merasakan lapar apalagi menderita Dia lupa Bahwa cinta Tuhan ada dalam tiap senyum bahagia pasangan Yang tulus berdoa untuk setiap jerih payah yang dilakukan untuk keluarga Itu surga sebenar-benarnya surga Cinta sebenar-benarnya cinta jika contoh itu terlalu naif, mari ambil lagi satu kasus Tentang seniman yang mengurung diri di bilik studio termenung mencari inspirasi karyanya atau sibuk se...

Stay at Side B

Image
Kulanjutkan cerita meloncat langsung pada kepulangan Noy yang tiba-tiba. Aku sedang duduk di beranda. Menikmati utusan Waktu yang mulai hobi bercanda. Benar, sebelumnya hampir saja aku kejatuhan cicak lucu yang sedang bercengkrama di plafon atasku. Kau tahu apa yang paling kubenci dari cicak? Mereka selalu melekat erat seperti menghisap kala jatuh menimpa kulit. Satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah menahan diri untuk tetap tenang dan mengambil nafas panjang, membiarkan cicak itu pergi dengan sendirinya. Kamu tahu kan cicak itu akan mati jika kupaksa pergi dengan tanganku. Mungkin kulitnya akan menempel di kulitku. Mungkin cairan tubuhnya malah hanya akan membuat kulitku berair dan bau. Dia mati. Aku repot sendiri membersihkan kulit. Jadi kubiarkan saja cicak lucu itu merayap pergi dengan muka lucu. Meskipun untuk itu aku terus saja bergidik ngeri sambil merapal doa. Lalu begitu saja Noy datang. Persis di depanku. Bukan dengan ucapan ‘Hai, rindu kamu padaku?’ Tetapi ...

"Waktu"

Image
Tentang Waktu yang seringkali terlalu memaksaku untuk maju itu, akupun masih samar tentang sosoknya. Atau rupanya. Atau kehadirannya. Aku tak pernah tahu wujudnya, aromanya. Aku hanya bisa merasakan bahwa Waktu mendekat, mendekap, kadang menguap masuk dalam tubuhku tanpa bisa kucegah. Aku pernah melawannya di penghujung waktu. Kala batas gelap dan terang memuai. Kala ayam jago bersiap senandungkan melodi kehidupan. Aku melawannya. Sendirian. Tapi hingga hari ini aku paham bahwa Waktu masih terlalu tangguh untuk kujadikan musuh. Berkali aku melawan, menangkis, menerjangnya, Waktu tetap diam dalam ketenangan yang begitu memabukkan. Aku sering terlena karenanya. Aku masih saja mendengarkan Waktu berbisik. Memaksaku melakukan ini itu yang jelas kurasa tak pernah berhubungan denganku. Aku benci itu. Aku benci karena tak mampu menolaknya. Aku hampir selalu menuruti keinginan Waktu. Bahkan saat dia berkata dengan lantang ‘bunuhlah dirimu’ setelah semalam sebelumnya Waktu mengaku...

masih side B

Image
Aku sambung cerita pada saat aku mulai bersekolah. Ibuku menjahit baju seragam koyak bekas kakak perempuanku yang sudah berhenti sekolah. Katanya ini waktuku untuk menggunakan otak. Mendengarkan guru-guru berceloteh tentang teori kehidupan. Sembari mengenakan seragam lucu penuh tambalan. Iya itu aku. Yang hampir tak pernah bisa menatap lurus kedepan. Terus menunduk memandang ujung sepatu yang usang. Lemnya habis, kainnya ndredet. Ujung kakiku menyembul dari baliknya. Tuhan, ini apa. Tanyaku menahan tangis diam-diam. Jalani saja. Nanti Waktu akan bantu jelaskan. Waktu itu apa? Siapa? Lanjutku bertanya Tapi tak lagi kudengar jawaban. Jadi aku berjalan menuju sekolah. Berjalan kaki hampir lima kilo jauhnya. Dari subuh aku berangkat, sampai disana badanku penuh keringat. Aku tak pernah peduli tatapan teman dan guru. Yang aku tahu hanya pesan Ibu. Untuk menggunakan otak. Dan jangan pernah teracuni dengan teori bodoh buatan manusia. Yakini bahwa melihat itu dengan hati. Men...

Side B

Image
Aku gadis desa, yang kebetulan saja sanggup sekolah hingga batas mampu menulis dan mengeja. Masa kecilku penuh dengan kenangan berlari diantara hujan. Terseret arus sungai kala mandi bersama kawan yang kebanyakan lelaki. Jangan bayangkan mandi bersama seperti pikiran sempit para manula, kami masih bocah ingusan yang hanya tahu berteman dan tertawa. Aku juga masih ingat kala ibu menjinjing keranjang besar cucian sembari mengawasiku berjalan. Aku disampingnya, menggenggam erat ujung kebaya yang nyaris koyak saking tuanya. Beberapa kali aku terpeleset karena jalanan hujan yang licin untuk langkah kakiku yang mungil menuju sungai   yang alirannya membelah desa dan mengairi sawah. Beberapa kali pula ibu setia menjemba tanganku, melupakan beban cucian yang jelas terlalu berat untuk tubuhnya yang mini. Saat sampai di arus yang cukup tenang untuk mencuci, dikelilingi bebatuan besar tempat ibu mengulas cucian para tetangga yang diserahkan padanya, aku melangkah perlahan di kedalam...

Kalau mendadak hilang selera pada donat. Itu pertanda gawat, Paman.

Image
Seperti hari yang lalu Aku mencari info penerbanganmu Melongok jam ratusan kali Mengamati gerak detiknya yang melambat Membaca ulang chatmu Menebak-nebak sampai mana kamu saat ini Berjalan mondar mandir dari kursiku ke toilet Lupa bahwa alarm perut berbunyi berulang kali Ohh, Paman... Biasanya donat coklat kacang mampu membuat perut tenang Tapi entah, Paman Donat itu tak lagi menggairahkan. Meskipun dia gendut dan berisi selai yang lumer hingga terasa seksi dimulut Aku frustasi, Paman Iseng kupesan coklat panas Sambil menunggu, aku membaca sebuah tulisan besar di sudut jendela 'Chocolate contains phenethylamine, the substance is able to produce Endhorpins in the body. Endhorpins, is a hormone that can make a person feel happy' Tapi itu bohong, Paman sudah tandas secangkir coklat panas Pun donat coklat kacang meski hanya 3 cubitan yang mampu kutelan Aku masih saja mondar-mandir Membuka inbox yang nyaris nihil darimu Pun n...