Matahari yang Terbenam di Ruang Bidan
Hari itu langkahku gagah sekali. Sebagai seorang suami, juga bapak seorang putri usia 13 tahun, aku bangga sekali karena hari ini uang lemburanku cair. Aku berjalan setengah berlari sambil sumringah membayangkan senyummu ketika mengucap alhamdulillah puluhan kali. Lalu kamu mulai sibuk mengeluarkan catatan kebutuhan kita. Mana yang sudah harus dipenuhi. Seragam sekolah Kalinda, sepatunya juga bisa kamu beli, ganti dengan yang brand juga tak masalah. Kita bisa stok gas yang mulai langka, beras 25 kg yang jelas lebih dari cukup sampai gajian bulan depanku keluar. Lalu apa, ada banyak juga rupanya list kebutuhan yang selalu kamu tulis dengan sabar dan telaten. Membayangkan aku akan bisa mewujudkan paling tidak separo listmu tentu saja membuatku bangga hampir berlinang air mata. Dan begitulah selama seminggu penuh kita belanja dengan uang lemburanku. Beli ini itu memenuhi rumah mungil dengan 7 kucing gembul yang kamu rawat sepenuh hati. Begitupun Kalinda. Matahari mungilku yang seny...