Posts

Recent post

Menjawab Perempuan di Jendela Kamar (Catatan 2026)

Beberapa waktu lalu, aku tidak sengaja membuka kembali arsip lama blog ini. Aku menemukan sebuah tulisan yang kutulis belasan tahun lalu, sebuah potret diri yang naif namun penuh harapan di bawah hamparan langit malam. Sebelum membaca catatan hari ini, kamu bisa mengintip apa yang dipikirkan perempuan itu di sini: 👉 BACA: Tulisan 2009 — Langitku... (Sembari membaca lanjutannya, aku mengajakmu untuk memutar lagu ini. Mari mengambil jeda, bernapas, dan merayakan setiap proses yang telah kita lalui...) Hai, perempuan yang sedang duduk di jendela kamar pada November 2009. Aku membaca ulang tulisanmu hari ini, di tahun 2026, ketika usiaku sudah lewat berkepala empat. Aku tersenyum—ada rasa geli, tapi lebih banyak rasa haru yang membuncah di dadaku. Di atas jendela itu, kamu sibuk memandangi langit, mengabaikan bokongmu yang mulai panas, ditemani semangkuk mi instan kuah yang kamu paksa telan di kala radang tenggorokan kumat. Kamu yang waktu itu berusia 24 tahun, dengan naifnya menuliskan s...

Satu Menit Jarak Lahir, Dua Dunia yang Berbeda

Image
Banyak orang yang mengira mendidik anak kembar itu serba praktis. Bajunya bisa disamakan, mainannya disamakan, sampai metode belajarnya pun disamakan biar Ibuknya gak pusing bagi waktu. Sampai akhirnya minggu ini, hasil tes psikologi Kidung dan Kinanthi keluar. Pas melihat lembar hasilnya, kami sempat senyum-senyum sendiri. Namanya juga anak kembar, skor inteligensi mereka kompak mirip di angka 103. Secara kapasitas berpikir umum, mereka berdiri di garis start yang sama. Tapi begitu melihat grafik minat dan bakatnya... lho, kok yang satu condong ke kanan, yang satu belok jauh ke kiri? Isinya bertolak belakang seperti bumi dan langit. Kertas hasil tes itu rasanya seperti tamparan sayang buat Ibuk dan Bapak. Sebuah pengingat yang telak: meskipun lahir dari rahim yang sama di hari yang sama, mereka adalah dua manusia yang benar-benar berbeda. Peta masa depan mereka tidak bisa dicetak massal. Kidung ternyata tumbuh dengan sisi humanis yang kental. Hasil tesnya menunjukkan minat yang tinggi...

Matahari yang Terbenam di Ruang Bidan

Image
Hari itu langkahku gagah sekali. Sebagai seorang suami, juga bapak seorang putri usia 13 tahun, aku bangga sekali karena hari ini uang lemburanku cair. Aku berjalan setengah berlari sambil sumringah membayangkan senyummu ketika mengucap alhamdulillah puluhan kali. Lalu kamu mulai sibuk mengeluarkan catatan kebutuhan kita. Mana yang sudah harus dipenuhi. Seragam sekolah Kalinda, sepatunya juga bisa kamu beli, ganti dengan yang brand juga tak masalah. Kita bisa stok gas yang mulai langka, beras 25 kg yang jelas lebih dari cukup sampai gajian bulan depanku keluar.  Lalu apa, ada banyak juga rupanya list kebutuhan yang selalu kamu tulis dengan sabar dan telaten. Membayangkan aku akan bisa mewujudkan paling tidak separo listmu tentu saja membuatku bangga hampir berlinang air mata. Dan begitulah selama seminggu penuh kita belanja dengan uang lemburanku. Beli ini itu memenuhi rumah mungil dengan 7 kucing gembul yang kamu rawat sepenuh hati. Begitupun Kalinda. Matahari mungilku yang seny...

TENTANG KESEMPATAN DAN IMPIAN MENULIS (2020)

Image
Satu hal yang Ibuk pelajari selama ini: kesempatan itu bisa datang tiba-tiba, lalu menghilang sama cepatnya seperti saat ia datang. Jadi seharusnya, setiap hari kita selalu menyiapkan diri, berproses, dan terus belajar. Agar ketika kesempatan itu datang, kita sudah pantas dan menjadi yang terbaik dibidangnya.  Banyak kesempatan hilang dan berubah jadi penyesalan hanya karena tidak dipersiapkan dengan baik, atau dikerjakan buru-buru akibat manajemen diri yang buruk. Eh tapi, soal bersiap-siap itu sebenarnya sudah Ibuk lakukan, sih. Kesempatan juga sudah datang. Dulu, Ibuk selalu berlatih bikin tanda tangan yang bagus, diselingi quotes penyejuk jiwa hasil mikir sambil begadang. Harapannya kelak bisa jadi penulis buku best seller yang harus siap tanda tangan di buku para penggemar. Pada akhirnya, tanda tangan bagus itu kepakai juga, sih. Di hadapan petugas bank—bank titil. Tanpa quotes, pastinya.  Ibuk juga berhasil tanda tangan dengan indahnya di hadapan petugas Dispenduk pas bi...

Mengamini Waktu

Image
Menua memang urusan waktu, kita tak bisa cawe-cawe terhadap rencana alam itu. Yang bisa kita lakukan hanya mengamini ketuaan itu. Iya, bahwa waktu berjalan dan tak mungkin kembali. Bahwa keriput datang dan membuat senyum sedikit terganggu kerut. Bahwa mata mulai mblawur dan perlahan mengurangi keasyikan kita menulis atau membaca. Bahwa produk-produk kolagen sebenarnya hanyalah dagangan saja. Apa jadinya bila umur menua tapi kulit dipaksa muda oleh produk skincare? Kita akan tamak oleh waktu. Narsis. Tua-tua keladi, makin tua makin rajin selfie. Salah? Tidak. Kan menolak tua. Meski tua, semangat harus muda dong.  Benar. Tapi ini bukan tentang menolak tua. Hanya mengamini menjadi bertambah usia. Perlahan kita akan sadar bahwa selalu ada tempat untuk kita. Semakin tua, semakin kita harus bergeser dari kursi masa muda. Di sana akan diisi anak-anak muda lain, bahkan anak kita sendiri. Itu panggung mereka. Kita punya panggung sendiri. Berisi semangat yang muda. Berisi pikiran yang bijaks...