Menjawab Perempuan di Jendela Kamar (Catatan 2026)
Beberapa waktu lalu, aku tidak sengaja membuka kembali arsip lama blog ini. Aku menemukan sebuah tulisan yang kutulis belasan tahun lalu, sebuah potret diri yang naif namun penuh harapan di bawah hamparan langit malam. Sebelum membaca catatan hari ini, kamu bisa mengintip apa yang dipikirkan perempuan itu di sini: 👉 BACA: Tulisan 2009 — Langitku... (Sembari membaca lanjutannya, aku mengajakmu untuk memutar lagu ini. Mari mengambil jeda, bernapas, dan merayakan setiap proses yang telah kita lalui...) Hai, perempuan yang sedang duduk di jendela kamar pada November 2009. Aku membaca ulang tulisanmu hari ini, di tahun 2026, ketika usiaku sudah lewat berkepala empat. Aku tersenyum—ada rasa geli, tapi lebih banyak rasa haru yang membuncah di dadaku. Di atas jendela itu, kamu sibuk memandangi langit, mengabaikan bokongmu yang mulai panas, ditemani semangkuk mi instan kuah yang kamu paksa telan di kala radang tenggorokan kumat. Kamu yang waktu itu berusia 24 tahun, dengan naifnya menuliskan s...