Posts

Recent post

TENTANG KESEMPATAN DAN IMPIAN MENULIS (2020)

Satu hal yang Ibuk pelajari selama ini: kesempatan itu bisa datang tiba-tiba, lalu menghilang sama cepatnya seperti saat ia datang. Jadi seharusnya, setiap hari kita selalu menyiapkan diri, berproses, dan terus belajar. Agar ketika kesempatan itu datang, kita sudah pantas dan menjadi yang terbaik dibidangnya.  Banyak kesempatan hilang dan berubah jadi penyesalan hanya karena tidak dipersiapkan dengan baik, atau dikerjakan buru-buru akibat manajemen diri yang buruk. Eh tapi, soal bersiap-siap itu sebenarnya sudah Ibuk lakukan, sih. Kesempatan juga sudah datang. Dulu, Ibuk selalu berlatih bikin tanda tangan yang bagus, diselingi quotes penyejuk jiwa hasil mikir sambil begadang. Harapannya kelak bisa jadi penulis buku best seller yang harus siap tanda tangan di buku para penggemar. Pada akhirnya, tanda tangan bagus itu kepakai juga, sih. Di hadapan petugas bank—bank titil. Tanpa quotes, pastinya.  Ibuk juga berhasil tanda tangan dengan indahnya di hadapan petugas Dispenduk pas bi...

Mengamini Waktu

Image
Menua memang urusan waktu, kita tak bisa cawe-cawe terhadap rencana alam itu. Yang bisa kita lakukan hanya mengamini ketuaan itu. Iya, bahwa waktu berjalan dan tak mungkin kembali. Bahwa keriput datang dan membuat senyum sedikit terganggu kerut. Bahwa mata mulai mblawur dan perlahan mengurangi keasyikan kita menulis atau membaca. Bahwa produk-produk kolagen sebenarnya hanyalah dagangan saja. Apa jadinya bila umur menua tapi kulit dipaksa muda oleh produk skincare? Kita akan tamak oleh waktu. Narsis. Tua-tua keladi, makin tua makin rajin selfie. Salah? Tidak. Kan menolak tua. Meski tua, semangat harus muda dong.  Benar. Tapi ini bukan tentang menolak tua. Hanya mengamini menjadi bertambah usia. Perlahan kita akan sadar bahwa selalu ada tempat untuk kita. Semakin tua, semakin kita harus bergeser dari kursi masa muda. Di sana akan diisi anak-anak muda lain, bahkan anak kita sendiri. Itu panggung mereka. Kita punya panggung sendiri. Berisi semangat yang muda. Berisi pikiran yang bijaks...

Nduk (2)...

Kalau ada hal obsesif yang ibu lakukan pada kalian, itu seputar ibu menyuruh kalian untuk memahami banyak hal diluar lingkup kalian. Belajar bahasa, budaya, makanan, orang-orang dilingkaran terjauh kalian. Belajarlah dari sana. Sejauh mungkin dari tempat lahirmu. Karena belakangan ibu melihat, terlalu banyak orang punya pikiran yang sempit. Memandang segala sesuatu hanya dari perspektif mereka sendiri. Termasuk ibu bapak, mungkin. That's why kami belajar, dan berusaha menularkan itu pada kalian tentang ini : " Ketika kita mau dan mampu belajar banyak hal diluar kita, banyak hal yang bisa kalian dapat. Termasuk berpikir dan berpandangan luas." Karena hidup tak hanya seputar bapak ibumu, keluarga besarmu, teman-teman sekolahmu, antara tawang-dinoyo, kota malang, pulau jawa, indonesia. Hidup jauh lebih dari itu, Nak. Hiduplah lebih luas. Menjangkau banyak kota, pelajari bahasanya, terbiasalah dengan makanannya yang beragam, pelajari budayanya. Bukankah menarik menemukan ...

Dia "Danau"

Image
Beberapa hari ini sedang menata ulang rumah Kai, terutama di atas, dimana kamar-kamar kami berada. Setelah pernikahan adik ipar, kamarnya dibongkar. Difungsikan sebagai ruang lapang saja tempat anak2 belajar, bermain bareng kucing-kucing yang makin bertambah dan bertingkah. Bukannya apa-apa. Kamarnya lembab, dindingnya lapuk, sehingga pilih dibuka saja agar lebih lapang juga. Antisipasi saat saudara berkunjung sehingga punya ruang lega tempat kami ngobrol dan berkumpul. Di ruang itu juga buku-buku yang kami kumpulkan sejak sebelum menikah, dibuatkan rak oleh suami. Duduk disitu membuat saya flashback pada ingatan satu persatu buku itu kami peroleh. Sebagian hasil tabungan jaman bujang dulu, sebagian hadiah dari teman dan lomba-lomba yang kami ikuti. Sebagian lagi kami beli setelah menikah, mengumpulkan recehan dan menunggu flashsale hingga berburu di pameran-pameran diskon yang lumayan bikin kami bisa beli buku dengan harga minimal. Melihat tumpukan buku itu entah kenapa jadi mellow ...

Menua dan Matang

Image
  Kamu berharap apa hari ini pada bapak ibumu,  Berharap diteriaki pulang cuci kaki lalu dipaksa tidur siang?  Kamu berharap apa hari ini pada bapak ibumu,  Berharap ada nasi sayap ayam lalu makan disuapi sambil dimarahi karena pulang menunggu teriakan?  Kamu berharap apa hari ini pada bapak ibumu?  Uang saku yang tak boleh kurang, kurang seratus kamu tagih hingga pengang telinga mereka Kamu berharap apa hari ini pada bapak ibumu?  Main petasan dan raketan seharian, puasa ramadhan bisanya sebatas bedug minta menu telur kecap ga pake lama, lalu ingin dengar ucapan selamat kamu anak hebat plus baju baru 2 setel saat lebaran dari bapak ibu. Kamu, yang masih anak kecil tapi sudah punya satu, dua, tiga, empat anak.  Tengok sebentar bapak ibumu Sudahkah sadar berapa uban di kepalanya Sudahkah sadar jalannya tak lagi seksama Sudahkah sadar bicaranya melambat, tersendat, seringnya bercerita tentang masa mudanya yang seru tapi dihentikan dengan sukarela k...