Posts

Recent post

Matahari yang Terbenam di Ruang Bidan

Hari itu langkahku gagah sekali. Sebagai seorang suami, juga bapak seorang putri usia 13 tahun, aku bangga sekali karena hari ini uang lemburanku cair. Aku berjalan setengah berlari sambil sumringah membayangkan senyummu ketika mengucap alhamdulillah puluhan kali. Lalu kamu mulai sibuk mengeluarkan catatan kebutuhan kita. Mana yang sudah harus dipenuhi. Seragam sekolah Kalinda, sepatunya juga bisa kamu beli, ganti dengan yang brand juga tak masalah. Kita bisa stok gas yang mulai langka, beras 25 kg yang jelas lebih dari cukup sampai gajian bulan depanku keluar.  Lalu apa, ada banyak juga rupanya list kebutuhan yang selalu kamu tulis dengan sabar dan telaten. Membayangkan aku akan bisa mewujudkan paling tidak separo listmu tentu saja membuatku bangga hampir berlinang air mata. Dan begitulah selama seminggu penuh kita belanja dengan uang lemburanku. Beli ini itu memenuhi rumah mungil dengan 7 kucing gembul yang kamu rawat sepenuh hati. Begitupun Kalinda. Matahari mungilku yang seny...

TENTANG KESEMPATAN DAN IMPIAN MENULIS (2020)

Image
Satu hal yang Ibuk pelajari selama ini: kesempatan itu bisa datang tiba-tiba, lalu menghilang sama cepatnya seperti saat ia datang. Jadi seharusnya, setiap hari kita selalu menyiapkan diri, berproses, dan terus belajar. Agar ketika kesempatan itu datang, kita sudah pantas dan menjadi yang terbaik dibidangnya.  Banyak kesempatan hilang dan berubah jadi penyesalan hanya karena tidak dipersiapkan dengan baik, atau dikerjakan buru-buru akibat manajemen diri yang buruk. Eh tapi, soal bersiap-siap itu sebenarnya sudah Ibuk lakukan, sih. Kesempatan juga sudah datang. Dulu, Ibuk selalu berlatih bikin tanda tangan yang bagus, diselingi quotes penyejuk jiwa hasil mikir sambil begadang. Harapannya kelak bisa jadi penulis buku best seller yang harus siap tanda tangan di buku para penggemar. Pada akhirnya, tanda tangan bagus itu kepakai juga, sih. Di hadapan petugas bank—bank titil. Tanpa quotes, pastinya.  Ibuk juga berhasil tanda tangan dengan indahnya di hadapan petugas Dispenduk pas bi...

Mengamini Waktu

Image
Menua memang urusan waktu, kita tak bisa cawe-cawe terhadap rencana alam itu. Yang bisa kita lakukan hanya mengamini ketuaan itu. Iya, bahwa waktu berjalan dan tak mungkin kembali. Bahwa keriput datang dan membuat senyum sedikit terganggu kerut. Bahwa mata mulai mblawur dan perlahan mengurangi keasyikan kita menulis atau membaca. Bahwa produk-produk kolagen sebenarnya hanyalah dagangan saja. Apa jadinya bila umur menua tapi kulit dipaksa muda oleh produk skincare? Kita akan tamak oleh waktu. Narsis. Tua-tua keladi, makin tua makin rajin selfie. Salah? Tidak. Kan menolak tua. Meski tua, semangat harus muda dong.  Benar. Tapi ini bukan tentang menolak tua. Hanya mengamini menjadi bertambah usia. Perlahan kita akan sadar bahwa selalu ada tempat untuk kita. Semakin tua, semakin kita harus bergeser dari kursi masa muda. Di sana akan diisi anak-anak muda lain, bahkan anak kita sendiri. Itu panggung mereka. Kita punya panggung sendiri. Berisi semangat yang muda. Berisi pikiran yang bijaks...

Nduk (2)...

Kalau ada hal obsesif yang ibu lakukan pada kalian, itu seputar ibu menyuruh kalian untuk memahami banyak hal diluar lingkup kalian. Belajar bahasa, budaya, makanan, orang-orang dilingkaran terjauh kalian. Belajarlah dari sana. Sejauh mungkin dari tempat lahirmu. Karena belakangan ibu melihat, terlalu banyak orang punya pikiran yang sempit. Memandang segala sesuatu hanya dari perspektif mereka sendiri. Termasuk ibu bapak, mungkin. That's why kami belajar, dan berusaha menularkan itu pada kalian tentang ini : " Ketika kita mau dan mampu belajar banyak hal diluar kita, banyak hal yang bisa kalian dapat. Termasuk berpikir dan berpandangan luas." Karena hidup tak hanya seputar bapak ibumu, keluarga besarmu, teman-teman sekolahmu, antara tawang-dinoyo, kota malang, pulau jawa, indonesia. Hidup jauh lebih dari itu, Nak. Hiduplah lebih luas. Menjangkau banyak kota, pelajari bahasanya, terbiasalah dengan makanannya yang beragam, pelajari budayanya. Bukankah menarik menemukan ...

Dia "Danau"

Image
Beberapa hari ini sedang menata ulang rumah Kai, terutama di atas, dimana kamar-kamar kami berada. Setelah pernikahan adik ipar, kamarnya dibongkar. Difungsikan sebagai ruang lapang saja tempat anak2 belajar, bermain bareng kucing-kucing yang makin bertambah dan bertingkah. Bukannya apa-apa. Kamarnya lembab, dindingnya lapuk, sehingga pilih dibuka saja agar lebih lapang juga. Antisipasi saat saudara berkunjung sehingga punya ruang lega tempat kami ngobrol dan berkumpul. Di ruang itu juga buku-buku yang kami kumpulkan sejak sebelum menikah, dibuatkan rak oleh suami. Duduk disitu membuat saya flashback pada ingatan satu persatu buku itu kami peroleh. Sebagian hasil tabungan jaman bujang dulu, sebagian hadiah dari teman dan lomba-lomba yang kami ikuti. Sebagian lagi kami beli setelah menikah, mengumpulkan recehan dan menunggu flashsale hingga berburu di pameran-pameran diskon yang lumayan bikin kami bisa beli buku dengan harga minimal. Melihat tumpukan buku itu entah kenapa jadi mellow ...