Pusaran yang Berhenti di Pukul Dua
Layar ponsel di atas meja kayu tiba-tiba menyala, memotong keheningan pukul dua dini hari. Getarnya yang panjang membuat cangkir kopi yang tinggal separuh bergoyang pelan. Di sana, deretan angka asing yang tidak kukenali berkedip-kedip menuntut jawaban. Aku mengernyit, menatap layar dengan kening berkerut. Penelpon tak dikenal, di jam sebegini? Pada dering ketujuh, rasa penasaran mengalahkan akal sehatku. Aku menggeser tombol hijau ke atas, lalu menempelkan ponsel ke telinga tanpa bersuara. "Nay?" Suara di seberang sana terdengar parau, sarat dengan beban yang—bahkan hanya dalam satu kata—langsung mengenalkan siapa pemiliknya. Jantungku mencelos. Itu suaranya. Suara yang sudah berbulan-bulan kubuang dari daftar kontak, namun sialnya, masih hafal luar kepala di dalam ingatan. "Kamu belum tidur?" tanyanya lagi. Aku menarik napas panjang, menahannya sejenak di dada agar suaraku tidak bergetar. "Ada apa?" "Aku baru sadar, Nay," jeda beberapa detik,...