Side B
Aku gadis desa, yang kebetulan saja sanggup sekolah hingga batas mampu menulis dan mengeja. Masa kecilku penuh dengan kenangan berlari diantara hujan. Terseret arus sungai kala mandi bersama kawan yang kebanyakan lelaki. Jangan bayangkan mandi bersama seperti pikiran sempit para manula, kami masih bocah ingusan yang hanya tahu berteman dan tertawa. Aku juga masih ingat kala ibu menjinjing keranjang besar cucian sembari mengawasiku berjalan. Aku disampingnya, menggenggam erat ujung kebaya yang nyaris koyak saking tuanya. Beberapa kali aku terpeleset karena jalanan hujan yang licin untuk langkah kakiku yang mungil menuju sungai yang alirannya membelah desa dan mengairi sawah. Beberapa kali pula ibu setia menjemba tanganku, melupakan beban cucian yang jelas terlalu berat untuk tubuhnya yang mini. Saat sampai di arus yang cukup tenang untuk mencuci, dikelilingi bebatuan besar tempat ibu mengulas cucian para tetangga yang diserahkan padanya, aku melangkah perlahan di kedalam...