Matahari yang Terbenam di Ruang Bidan


Hari itu langkahku gagah sekali. Sebagai seorang suami, juga bapak seorang putri usia 13 tahun, aku bangga sekali karena hari ini uang lemburanku cair. Aku berjalan setengah berlari sambil sumringah membayangkan senyummu ketika mengucap alhamdulillah puluhan kali. Lalu kamu mulai sibuk mengeluarkan catatan kebutuhan kita. Mana yang sudah harus dipenuhi. Seragam sekolah Kalinda, sepatunya juga bisa kamu beli, ganti dengan yang brand juga tak masalah. Kita bisa stok gas yang mulai langka, beras 25 kg yang jelas lebih dari cukup sampai gajian bulan depanku keluar. 

Lalu apa, ada banyak juga rupanya list kebutuhan yang selalu kamu tulis dengan sabar dan telaten. Membayangkan aku akan bisa mewujudkan paling tidak separo listmu tentu saja membuatku bangga hampir berlinang air mata.

Dan begitulah selama seminggu penuh kita belanja dengan uang lemburanku. Beli ini itu memenuhi rumah mungil dengan 7 kucing gembul yang kamu rawat sepenuh hati. Begitupun Kalinda. Matahari mungilku yang senyum sumringah saat kuajari memetik gitar baru yang juga kubeli untuknya. Menyanyikan Bernadya lagu favoritnya. Saking senangnya hidungnya kembang kempis saat memelukku sambil makin lantang bernyanyi. 

Kamu sibuk di dapur membuat cemilan, dari baunya ini pasti kentang goreng favoritku dan Kalinda. Dalam hati aku mengucap syukur berkali-kali, atas hidup yang Tuhan beri.
Kehidupan sederhana yang Tuhan anugerahkan, yang dulu bahkan tak terbayangkan akan aku lewati semenyenangkan ini. Kamu, dengan segala keahlian memasak dan menata rumah. Kalinda, dengan suara tawanya yang mengajak orang untuk ikut tertawa saking lucunya.
Dirumah mungil itu kita mengisi hari yang biasa dengan selalu makan bersama, sesibuk apapun hari kita. Kamu yang menunggu aku pulang kerja, Kalinda pulang sekolah di beranda sambil menyelesaikan sketsamu ditemani lagu dari Letto band pujaanmu. Kamu yang pandai membuat kare ayam favorit Kalinda. Kalinda yang bangga mengajak temannya bermain bersama dirumah, karena selalu ada camilan buatanmu untuk mereka. Kamu yang tiap minggu membuka rumah dan mengajak anak-anak tetangga membaca, menggambar bersama Kalinda. Kadang-kadang aku juga mengajari mereka bermain gitar. Semua itu kusyukuri tiap saat. Betapa menyenangkan punya kamu dan Kalinda, yang membuatku selalu ingin cepat pulang saat diluar rumah. 


Tapi hari itu berbeda. Hujan tak reda sesorean hingga menjelang subuh. Kamu mengaduh karena perutmu sakit luar biasa. Entah dimana Kalinda, aku setengah bingung menenangkanmu yang berusaha mencari posisi ternyaman untuk mengurangi sakitmu. Selesai petir besar menyambar, aku nekat mengeluarkan motor. Memasangkan jaket tebal dan kaos kaki untukmu. Lalu memboncengmu menuju bidan terdekat dari rumah.


04.53


Jam dinding di ruang praktek bidan menunjukkan angka itu. Asisten bidan bilang Bu bidan sedang solat subuh. Sebentar lagi kesini. Aku mulai merasa mual, melihatmu meringis kesakitan memegangi perut juga pinggangmu. Di tengah kesakitanmu, air matamu tiba-tiba luruh begitu deras di atas ranjang periksa. Kamu menangis sesenggukan, menggenggam tanganku. Sabar ya, sebelum hari ini berakhir kita akan pulang kerumah, bertemu Kalinda. 

Bu Bidan datang tergopoh-gopoh. Mengoleskan cairan gel lalu bolak balik melihat perutmu dan monitor lewat doppler. Harusnya, kita sama-sama akan mendengar detak jantung yang gemuruh. Hari ini tidak meskipun bu bidan sudah menggeser rata ke seluruh perutmu.

Aku menatapmu yang masih sembab dengan gemetar. 


06.21

Bidan merujukmu ke rumah sakit besar, dimana peralatan disana lebih lengkap untuk tahu ada apa dengan perutmu. Dengan motor kubonceng kamu perlahan. Hingga tetiba aku menginjak rem dadakan, saat sekilas kulihat Kalinda berlari sambil tersenyum ceria ke arahku. Suaranya kuhafal benar. Suara tawa yang menyenangkan. Tanpa sadar aku ikut tertawa sambil kembali melaju. Kalinda melambaikan tangan. Di belakang punggungku, tangismu justru makin pecah terendam suara mesin motor butut kita sambil memukul pelan punggungku. 


07.28

Dokter di Rumah Sakit bilang Kalinda tak tertolong. IUFD. Bayi mungil di dalam perutmu itu sudah 3 hari yang lalu tidak lagi bernyawa. Tidak lagi bergerak menendang perutmu. Perihal sakit di perutmu terjawab sudah. Kalinda membisiki kupingku. "Pak, aku ingin keluar, tak mau menyusahkan ibu bapak lagi."

Dokter bilang kontraksimu memang terus terjadi meski bayi tak lagi hidup. Dan itu katanya keajaiban. Entah sebagai ucapan penghibur atau memang begitu adanya. Kepalaku bising. Kalinda terus berbisik sambil tertawa. 

"Bapak..bapak...ibuk.. Dadaaahh"

Aku mulai bicara melantur tentang seragam sekolah Kalinda, sambil melambaikan tangan, membuat dokter menatapku prihatin. Di ranjang itu, kamu mendadak jauh lebih tenang. Air matamu mengering, digantikan usapan lembut tanganmu di pipiku yang dingin. Kamu mengkhawatirkanku, padahal kamu yang kesakitan. 


07.45

Jam tanganku basah terkena hujan yang datang lagi. Kubonceng kamu kembali ke rumah bidan dengan berjas hujan ala kadarnya. Kamu bilang tak nyaman jika harus opname di rumah sakit besar. Jadi kubawa lagi kamu pulang ke ruang bidan kita, dengan perut besar yang lunglai.


08.20

Orang-orang berdatangan menjengukmu yang lemas. Aku melihatmu bicara menjelaskan ini itu. Infus terpasang di tangan kirimu. Bajumu basah karena keringat dan hujan tadi. Di luar jendela kamar bidan, aku masih bisa melihat Kalinda usia 13 tahun sedang berlari-lari mengejar salah satu kucing gembul kita. Dia tertawa, menoleh ke arahku, lalu melambaikan tangan dengan riang. Aku mengabaikan tatapan kasihan orang-orang, juga airmataku sendiri. 


17.50

Waktu berjalan lambat, merayap melewati siang yang menyiksa hingga senja tiba. Ruangan ini mendadak menjadi tempat paling sunyi di dunia. Tak ada suara Letto dari radio tua kita, tak ada petikan gitar baru yang kubeli seminggu lalu. Yang terdengar hanya desah napasmu yang berjuang payah menuntaskan takdir, melahirkan sesuatu yang sudah mendahului kita pergi. Pikiranku bising sekali.


Tepat saat semburat merah di langit meredup dan azan magrib berkumandang di kejauhan, keheningan itu mencapai puncaknya. Kamar bersalin ini senyap. Senyap yang begitu pekat, hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang patah satu demi satu.


Bu bidan, yang selama kehamilanmu selalu menyambut kita seperti anak sendiri, kini berjalan mendekatiku. Wajahnya yang tadi panik luar biasa saat memegang alat USG di waktu fajar, kini melunak penuh kesedihan yang mendalam. Beliau membersihkan sesosok tubuh mungil dengan kain bedung putih, lalu meletakkannya dengan sangat hati-hati ke arahku. Tangan terampilnya yang gemetar menepuk bahuku. Pikiranku yang bising mendadak buyar. 
"Anakmu, Le. Adzani, sing tenang. Kabeh wes dalane Gusti Allah. Setelah ini kita beri nama, baca yasin setelahnya." Suaranya pecah, sarat akan duka yang sama besarnya dengan apa yang kami rasakan.


Aku membeku. Di sudut ruangan, Kalinda usia 13 tahun yang pintar memetik gitar itu perlahan memudar, melepaskan senyumnya dengan melambaikan tangan, seragam sekolahnya masih terlihat baru, lalu bayangannya menguap menjadi udara kosong. Ilusi yang kubangun dengan uang lemburan dan kebahagiaan semu itu runtuh tanpa suara. Dinding pertahananku lapuk seketika saat tubuh mungil itu benar-benar berpindah ke atas kedua lenganku. Seluruh duniaku berhenti. Dia begitu kecil. Kulitnya sedingin malam yang mulai diguyur hujan, dan matanya terpejam rapat. Tidak ada gitar baru. Tidak ada seragam sekolah. Yang ada hanya putri kecilku yang memilih untuk terbenam tepat saat malam menjemput. 

"Astaghfirullah.. Astagfirullah" Aku mendengar gumam istriku yang setengah terpejam.
Aku mendekatkan bibirku ke telinga mungilnya. Suaraku tercekat di tenggorokan, pecah bersama air mata yang sejak subuh kutahan mati-matian.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."


Aku mengadzani matahari mungilku yang telah padam. Membisikkan nama yang selalu kita semogakan: Kalinda. Dia yang arti namanya adalah matahari, memang serupa itu. Kontraksi saat fajar, dan tenggelam saat senja yang abadi. 

Feb, 2012

Comments

Popular posts from this blog

mengapa harus malang?

Mengamini Waktu

wisata kuliner OYONID