Satu Menit Jarak Lahir, Dua Dunia yang Berbeda


Banyak orang yang mengira mendidik anak kembar itu serba praktis. Bajunya bisa disamakan, mainannya disamakan, sampai metode belajarnya pun disamakan biar Ibuknya gak pusing bagi waktu. Sampai akhirnya minggu ini, hasil tes psikologi Kidung dan Kinanthi keluar.
Pas melihat lembar hasilnya, kami sempat senyum-senyum sendiri. Namanya juga anak kembar, skor inteligensi mereka kompak mirip di angka 103. Secara kapasitas berpikir umum, mereka berdiri di garis start yang sama. Tapi begitu melihat grafik minat dan bakatnya... lho, kok yang satu condong ke kanan, yang satu belok jauh ke kiri? Isinya bertolak belakang seperti bumi dan langit.
Kertas hasil tes itu rasanya seperti tamparan sayang buat Ibuk dan Bapak. Sebuah pengingat yang telak: meskipun lahir dari rahim yang sama di hari yang sama, mereka adalah dua manusia yang benar-benar berbeda. Peta masa depan mereka tidak bisa dicetak massal.
Kidung ternyata tumbuh dengan sisi humanis yang kental. Hasil tesnya menunjukkan minat yang tinggi di bidang Literary (literatur/bahasa) dan Medical. Dia adalah tipe yang peka terhadap keindahan bahasa, suka membaca, mahir mengekspresikan diri lewat tulisan, sekaligus punya empati tinggi pada dunia kesehatan dan merawat sesama. Pikirannya menangkap dunia lewat kata-kata dan rasa. Gaya belajarnya pun tipe Read/Write—ia butuh membaca teks dan mencatat ulang dengan bahasanya sendiri agar ilmunya meresap.
Nah, di sisi lain, saudaranya si Kinanthi punya cerita berbeda. Grafik minatnya melonjak di bidang Clerical (kegiatan administratif/keteraturan) dan Computational. Kinanthi adalah anak yang mencintai keteraturan, kerapian, serta sangat tertantang dengan permainan logika angka dan matematika. Pikirannya bekerja secara terstruktur, logis, dan sistematis. Gaya belajarnya pun menuntut visual yang dinamis. Teks panjang yang polos adalah musuh utamanya; dia butuh peta konsep, kode warna, dan diagram untuk bisa memahami sesuatu secara utuh.
Satu-satunya titik temu mereka yang sama-sama tinggi adalah bidang Aesthetic. Keduanya kompak memiliki jiwa seni dan kepekaan visual yang kreatif. Tapi, cara mereka mengekspresikannya tentu punya jalan sendiri-sendiri.
Melihat lembaran hasil tes ini, Ibuk cuma bisa geleng-geleng kepala sambil membatin. Anak yang lahir kembar identik, keluar dari rahim yang sama, berbeda satu menit saja, dan dibesarkan di rumah yang sama saja bisa punya cetak biru jiwa yang bertolak belakang begini. Apalagi anak-anak lain di luar sana?
Jadi, tulisan ini sebenarnya tamparan paling keras buat ego Ibuk sendiri. Pengingat biar gak jadi orang tua yang egois, yang hobi menuntut anak harus jadi ini-itu sesuai isi kepala kita. Kadang kita lupa kalau anak itu bukan kertas kosong yang bisa kita gambar sesuka hati, dan bukan pula perpanjangan dari ambisi masa muda kita yang belum kesampaian.
Tugas Ibuk dan Bapak itu cuma jadi fasilitator dan pemandu sorak di tepi lapangan takdir mereka. Memastikan iman dan mental mereka kokoh, bukan mendikte ke mana arah kaki mereka harus melangkah. 
Semacam tukang kebun yang menyiangi rumput liar, menyirami, memupuk, bukan memaksa melati menumbuhkan mawar di tangkainya.
Ini semacam reminder paling faktual buat orang tua: berhenti membandingkan anak kita dengan anak orang lain, atau bahkan membandingkan kakak dengan adiknya sendiri. Memaksa anak yang jago logika matematika untuk punya bakat menulis puisi yang sama cantiknya itu jelas gak akan ketemu. Malah bikin anaknya stres, Ibuknya juga ikutan naik darah. Jangan.
Every child matters. Setiap anak itu sudah membawa "sangu" atau bekal uniknya masing-masing dari langit sejak lahir. Tugas kita bukan membongkar atau mengubah isinya, tapi membantu mereka cara memakainya dengan bijak.
Kidung, Kinanthi... Selamat menjelajahi peta minat dan bakat kalian masing-masing, ya. Ibuk dan Bapak berjanji akan terus belajar untuk menemani langkah kalian tanpa membeda-bedakan. Kalau itu sampai terjadi, proteslah kalian. Wong namanya juga bapak dan ibukmu, kadang aneh bin ajaib. Haha.
Mekarlah dengan caramu sendiri, Nak. Sing seneng, sing sabar, sing syukur. Mari kita mulai lagi hari ini, dengan penerimaan yang utuh, mengenali potensi diri sendiri, dan stok sabar yang luas. Gak cuma kalian, tapi kami juga ingin bertumbuh, sebagai orang tua dengan titipan seindah kalian. Bismillah...

Comments

Popular posts from this blog

mengapa harus malang?

Mengamini Waktu

wisata kuliner OYONID