TENTANG KESEMPATAN DAN IMPIAN MENULIS (2020)



Satu hal yang Ibuk pelajari selama ini: kesempatan itu bisa datang tiba-tiba, lalu menghilang sama cepatnya seperti saat ia datang. Jadi seharusnya, setiap hari kita selalu menyiapkan diri, berproses, dan terus belajar. Agar ketika kesempatan itu datang, kita sudah pantas dan menjadi yang terbaik dibidangnya. 

Banyak kesempatan hilang dan berubah jadi penyesalan hanya karena tidak dipersiapkan dengan baik, atau dikerjakan buru-buru akibat manajemen diri yang buruk.

Eh tapi, soal bersiap-siap itu sebenarnya sudah Ibuk lakukan, sih. Kesempatan juga sudah datang.

Dulu, Ibuk selalu berlatih bikin tanda tangan yang bagus, diselingi quotes penyejuk jiwa hasil mikir sambil begadang. Harapannya kelak bisa jadi penulis buku best seller yang harus siap tanda tangan di buku para penggemar.

Pada akhirnya, tanda tangan bagus itu kepakai juga, sih. Di hadapan petugas bank—bank titil. Tanpa quotes, pastinya. 

Ibuk juga berhasil tanda tangan dengan indahnya di hadapan petugas Dispenduk pas bikin e-KTP. Sama, tanpa quotes juga.

Kadang daripada mubazir, quotes-nya Ibuk tulis diam-diam di buku ngajimu. Kadang kepikiran juga nulis di buku tugas sekolah, tapi gak jadi karena kalian sudah coret-coret sendiri sampul bukunya. Kadang juga kalian selipkan di antara tugas berhitungmu:

1 + 9 = 10

2 + 9 = 11

Di antaranya ada gambar bunga, lalu tulisan: "Aku sedang gembira, karena bertemu bunga."

Pernah suatu hari Ibuk dipanggil Bu Guru. Sambil menahan tawa, beliau tanya, "Anak njenengan,Bu, bikin saya ngakak."

Ngakak saja, Bu. Mereka memang absurd. 👻

Akhirnya memang jelas kalau kalian anak Ibuk. Umur 5 tahun sudah bisa bikin quotes begitu di buku tugas 🤣

Haiihh iyaa... Banyak hal yang baru Ibuk sadari belakangan, justru saat sudah menjadi ibu. Dulu, Ibuk suka sekali mengutuk keadaan. Ternyata, ya memang diri sendiri yang masih banyak kekurangan. Seakan sudah tahu banyak hal, sudah mencapai impian, dan sudah bekerja maksimal. Ternyata... salah jalan.

Seorang teman pernah bertanya,

"Tahu kenapa kamu gak bisa jadi penulis?"

"Opo'o?"

"Karena kamu lebih sibuk membaca daripada menuliskan ide dan memprosesnya."

"Iyo ya... Membaca buku sih masih lumayan. Ibuk senangnya malah baca status orang. Dan akhirnya kepo akut."

Penyakit emak-emak.

Ya sudah. Pada akhirnya Ibuk sadar bahwa menulis itu bukan hanya butuh diksi, ide cerita, dan medianya saja. Di baliknya butuh komitmen besar, ketekunan, kesabaran, dan mental yang baik saat menghadapi kritikan atau semacamnya.

Ibuk masih jauh dari itu. Ilmunya masih sedengkul. Sekarang, semangat menulis Ibuk dialihkan ke blog saja, atau diary, sekadar untuk mengingat momen. Menangkap memori biar gak lupa dan bisa jadi kenangan kelak ketika tua. Selain itu, Ibuk juga ingin fokus mendukung langkah bapakmu, yang semoga masih bisa melahirkan buku-buku baru lagi. Iya, bapakmu yang di cerita ini jadi temen yang bilang ibuk ga bisa nulis tadi 😁

Satu-satunya hal yang sekarang Ibuk bisa lakukan adalah menyaring ilmu-ilmu yang selama ini Ibuk dapatkan, supaya bisa bermanfaat buat #kidkin.

Menyesal? Ya tidak. Mana ada hal mubazir dan sia-sia dalam kamus orang beriman? Ibuk legowo,insya Allah.

Apalagi saat dianugerahi #kembartapibeda itu.

Saat melahirkan mereka, Ibuk sadar masa untuk menjadi diri sendiri sudah usai. Waktu kami berganti dengan tanggung jawab penuh untuk mempersiapkan anak-anak. Mendukung mereka jadi apa pun kelak; 

sebaik-baiknya muslimah yang cerdas dan bermental baja, serta membawa penghiburanuntuk sesama—seperti nama yang kami hadiahkan untuk mereka: Kidung Az-Zahra Kanaputri danKinanthi Az-Zahra Kanaputri.

Sudah bertahun-tahun berlalu, maafkan ternyata bapak dan ibukmu masih sering sibuk sendiri dengan urusan masing-masing. Kelak saat kamu membaca ini, maafkan Ibuk yang telat mengerti, telat memulai.

Tahun 2013 lalu, Ibuk dan bapakmu seperti orang bingung. Kok bisa langsung dapat dua bayi sekaligus. Apa ya bisa jadi orang tua yang sepadan buat mereka?

Tahun 2020, setelah 7 tahun bapak dan ibukmu "dikeplak" kenyataan, barulah Ibuk bisa menulis curhatan ini panjang kali lebar. Intinya, ya harus amanah. Sudah dititipi duo bocil seru itu artinya ya dipercaya Gusti Allah [dih, ge er]

Kami yakin kami bisa, Insya Allah.👾

___________________________________________

*Menemukan draf tulisan dari tahun 2020 lalu nyempil di catatan hape membuat saya termenung lama.Waktu berjalan secepat itu ya

Hari ini, ditahun 2026, lembaran baru kembali membuka cerita saat hasil tes psikologi Kidung dan Kinanthi keluar. Iya, ternyata arahnya memang di bidang bahasa, dan seni. Bikin merinding 😆

Lebih lengkap soal hasil psikotest di tulisan berikutnya yak. Tak ngopi dulu ☕

Comments

Popular posts from this blog

mengapa harus malang?

wisata kuliner OYONID

jadwal neam AREMA ISL putaran 2