Posts

Recent post

Dia "Danau"

Beberapa hari ini sedang menata ulang rumah Kai, terutama di atas, dimana kamar-kamar kami berada. Setelah pernikahan adik ipar, kamarnya dibongkar. Difungsikan sebagai ruang lapang saja tempat anak2 belajar, bermain bareng kucing-kucing yang makin bertambah dan bertingkah. Bukannya apa-apa. Kamarnya lembab, dindingnya lapuk, sehingga pilih dibuka saja agar lebih lapang juga. Antisipasi saat saudara berkunjung sehingga punya ruang lega tempat kami ngobrol dan berkumpul. Di ruang itu juga buku-buku yang kami kumpulkan sejak sebelum menikah, dibuatkan rak oleh suami. Duduk disitu membuat saya flashback pada ingatan satu persatu buku itu kami peroleh. Sebagian hasil tabungan jaman bujang dulu, sebagian hadiah dari teman dan lomba-lomba yang kami ikuti. Sebagian lagi kami beli setelah menikah, mengumpulkan recehan dan menunggu flashsale hingga berburu di pameran-pameran diskon yang lumayan bikin kami bisa beli buku dengan harga minimal. Melihat tumpukan buku itu entah kenapa jadi mellow ...

Menua dan Matang

Image
  Kamu berharap apa hari ini pada bapak ibumu,  Berharap diteriaki pulang cuci kaki lalu dipaksa tidur siang?  Kamu berharap apa hari ini pada bapak ibumu,  Berharap ada nasi sayap ayam lalu makan disuapi sambil dimarahi karena pulang menunggu teriakan?  Kamu berharap apa hari ini pada bapak ibumu?  Uang saku yang tak boleh kurang, kurang seratus kamu tagih hingga pengang telinga mereka Kamu berharap apa hari ini pada bapak ibumu?  Main petasan dan raketan seharian, puasa ramadhan bisanya sebatas bedug minta menu telur kecap ga pake lama, lalu ingin dengar ucapan selamat kamu anak hebat plus baju baru 2 setel saat lebaran dari bapak ibu. Kamu, yang masih anak kecil tapi sudah punya satu, dua, tiga, empat anak.  Tengok sebentar bapak ibumu Sudahkah sadar berapa uban di kepalanya Sudahkah sadar jalannya tak lagi seksama Sudahkah sadar bicaranya melambat, tersendat, seringnya bercerita tentang masa mudanya yang seru tapi dihentikan dengan sukarela k...

NTMS

Image
Akan selalu ada hal yang membuatmu kesal, setiap harinya.  Macetnya jalanan, panasnya udara, hujan yang udah kaya tagihan deres tiada henti, tugas yang seperti teror, masuk angin yang selalu datang dadakan disaat sibuk-sibuknya, status WA temen yang nyinyir, kelakuan orang sekitar yang random, dan lain lain.  Lalu apa yang harus kita lakukan, gimana caranya biar hal-hal itu ga mengganggu kita? Pada akhirnya kita hanya harus kembali pada kesimpulan. Tidak ada yang bisa kita atur dan kendalikan kecuali diri sendiri. Fisik dan psikis sepenuhnya kita yang bisa kontrol, diluar itu kita tak mungkin bisa mengubah apapun, sebelum selesai dengan diri sendiri.  Ya biar saja jalanan macet, orang teriak berebut jalur. Beli es teh manis buat tambahan asupan gula sekaligus pendingin suasana, mungkin bisa membantu kita stay selow. Takut diabetes? Yowes banyu putih wes.. Atau sekalian wudhu.  Ya biar saja tugas datang kaya tagihan. Kalau terlalu banyak sampe bingung kerjain yang ma...

Paylater, Pailit Later

Image
Ternyata pemahaman saya salah tentang rezeki selama ini. Dan sedikit ilmu dan kesadaran itu justru saya dapat setelah jatuh dalam hutang yang diluar kemampuan bayar. Iya, sungguh rasanya kapok sekali dengan yang namanya hutang. Menyesal, geram sekaligus penasaran dengan kondisi yang tetiba saja kami hadapi. Lalu mulai sibuk mencari apa yang salah, karena jelas ada pemahaman yang keliru dengan output yang seperti itu meskipun menurut saya ((dulu)) cara yang ditempuh sudah benar.  Rupanya benar bahwa sombong itu sifat manusia, saat sudah merasa bisa, merasa mengerti, dan mulai lupa bahwa segala hal terjadi atas KuasaNya.  Berpikir bahwa hutang itu solusi dari masalah padahal jelas ada imbuhan bunga di dalamnya. Merasa bahwa gaji itulah yang menjamin hidup, alih-alih rezeki sudah ada yang mengatur. Lupa dan takut mengurangi kenyamanan hidup jika sampai uang kurang.  Pada akhirnya menjalani bulan-bulan dengan tagihan berjalan itu tidak pernah semudah yang disangka diawal. Dik...

Merobek Sumatra

Image
Apa yang terlintas dalam pikiran kala tersebut nama-nama kota di pulau Sumatra? Mentawai, Aceh, Sawahlunto, Padang, Batam, Jambi, dsb... Bisa jadi kita akan tertuju pada kulinernya. Siapa yang tak kenal masakan padang? Pada warung kopi yang tersebar di seluruh penjuru aceh karena budaya ' ngopi dan nongkrong ' yang kental disana. Atau pada ombak yang membuai surfer-surfer dunia di lautan Mentawai. Bisa jadi juga kita terkenang Cut Nyak Dien, perang Padri, GAM, atau justru tsunami Aceh.  Lewat buku ini saya diajak mengenal Sumatra lebih akrab. Satu-persatu wilayah dijelajahi penulis, ditangkap memorinya melalui catatan perjalanan dan foto-foto yang membuat ndoweh   spechless . Gaya penulisannya mengingatkan saya pada Agustinus Wibowo , yang berhasil 'menghadirkan' gambaran tentang Asia Tengah dengan detilnya dalam 'trilogi' bukunya (Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol)  Tak hanya pada lanskapnya, tetapi juga karakter penduduknya. Dibuku ini, begitulah...